KUMBANG KEMBANG SEPATU
Diiringi senja jingga dihari itu, terpaku aku menatap sang kumbang yang sempat mampir di pucuk bunga kembang sepatu didepan kamar hotel itu, mataku terpaku terdiam seakan mengerti apa yang sedang mereka perbincangkan, seperti ingin mejalin tali kasih yang pernah hilang terhempas hari yang jenuh. Senja masih menunggu si kumbang jantan untuk menyelesaikan tugas dari sang ratu katanya, sementara aku masih sibuk menelaah apa yang terjadi dengan kumbang dan kembang itu?, seperti ada rahasia diantara keduanya, tak habis mataku terlepas melihat tingkah laku kumbang mengemis meminta belaskasihan agar sang kembang bersedia memberi setetes sarinya yang manis dan lembut itu, aku teringat akan kawan kecilku dulu, bersama kami berangkat menuju sekolah setiap harinya.
Diiringi senja jingga dihari itu, terpaku aku menatap sang kumbang yang sempat mampir di pucuk bunga kembang sepatu didepan kamar hotel itu, mataku terpaku terdiam seakan mengerti apa yang sedang mereka perbincangkan, seperti ingin mejalin tali kasih yang pernah hilang terhempas hari yang jenuh. Senja masih menunggu si kumbang jantan untuk menyelesaikan tugas dari sang ratu katanya, sementara aku masih sibuk menelaah apa yang terjadi dengan kumbang dan kembang itu?, seperti ada rahasia diantara keduanya, tak habis mataku terlepas melihat tingkah laku kumbang mengemis meminta belaskasihan agar sang kembang bersedia memberi setetes sarinya yang manis dan lembut itu, aku teringat akan kawan kecilku dulu, bersama kami berangkat menuju sekolah setiap harinya.
Pernah sekali dia berniat cerita tentang pengalaman intimnya,
Sambil dia membelikanku sebatang gudang garam, agar aku mendengarkan cerita anehnya itu,
tak pernah terlintas dalam otakku yang kecil ini dia akan bercerita tentang pengalamannya itu, dia seorang gadis yang masih belum cukup umur untuk berhubungan badan pikirku, maklum dia masih duduk dibangku SMP, tetapi apalah dayaku, dia sudah duluan membuka percakapan yang tak lazim ini, sementara percakapan itu dimulai terdengar suara menggelegar dari luar jendela petanda akan datangnya petir,guntur dan sahabat mereka hujan, sambil mendengarkan suara sang gadis yang sudah tak ‘gadis lagi’ ini, aku berdiri menutup jendela kamarku yang sempit itu, dan dia kembali lagi mengeraskan suara lembutnya itu. seiring dengan ceritanya ruangan kamar itu dipenuhi nafsu birahi terbius dipikiranku yang jorok ini, karena mendengar pengakuan dari anak tetanggaku bernama Nona. Aku sempat berpikir untuk mengikuti emosi ego yang aku miliki, tapi sorot matanya menghalang semua apa yang ingin aku lakukan, dengan sebuah pertannyaan.
“Kalau pengalamanya kamu seperti apa kak?”
Kaget dengan ekspresi diam dan ragu aku mulai memberanikan diri menggerakan bibir yang sempat kaku ini.
“ kalau saya belum pernah Nona”
sambil menyimpulkan senyuman aku menjawab,
dia juga tersenyum malu sempat takut, seperti dia malu dengan apa yang dia tanyaakan, sesaat suasana kamar itu hening hanya suara guntur menggelagar dari luar jendela, aku memaksa merubah suasana canggung itu dengan baik,
“nona mau teh?”
dengan senyuman manis yang keluar dari bibir mungil itu dia berdiri sambil berkata
“saya bisa buat teh sendiri kak, boleh?” jawabnya
Serentak Nona menuju ke dapur hendak membuatkanya sendiri ,seperti petir menyambar tubuhku saat permukaan kulitnya yang mulus itu tak disangka menyentuh jemariku pada saat dia hendak berdiri dari kasur yang berbahankan kapuk ini, aku terbius sesaat, padahal kontak ini sering terjadi antara kami berdua tetapi berbeda kali ini tak tahu kenapa berbeda rasanya, Mungkin karena batin yang bercampur ego birahi tinggi sedang menghantui pikiranku, sang nona hanya melemparkan senyum indahnya lagi kali ini, apa maksud senyuman itu? tanyaku dalam hati.
Aku berniat membantu sang Nona kali ini dengan senang hati, dia memintaku agar menunggu air sampai mendidih, sementara dia menyiapkan bahan-bahan tehnya itu, kontak yang tadinya terjadi kali ini sangat sering, maklum dapur rumahku sempit hanya seukuran 1/3 dari besar kamar tidurku, aku tak bisa menahan birahiku kali ini mencoba menahan anuku yang mulai terangsang naluri untuk melanjutkan kontak ini ketahap selanjutnya, tak disangka Nona mencoba menerima ransangan yang aku berikan dengan sentuhan yang sangat berbeda, seperti sudah terlatih aku mencoba memahami maksud dari bahasa tubuh itu, seakan tubuhku terhepas dari dunia yang indah menuju kesempurnaan surga oleh sentuhan dosa yang terjalin diantara kami berdua, diam sejenak setelah adegan intim ini terjadi,
aku memeluknya dan bicara,
“kamu suka?”
“suka kaka” jawabnya, dengan senyum dia berbicara padaku sambil merangkulku dengan erat bagian tubuhku yang hampir telanjang bulat ini dan menutup mata seakan ingin sejenak terlelap dalam pangkuanku, aku mulai berlagak membakar selinting tembakau yang kubeli sendiri kemarin sambil mengelus kepal anak gadis anak tetangga ini, terseyum puas keluar dari bibir yang berbau tembakau ini, seakan aku telah mencicipi tembakau terbaik dunia pikirku.
Beberapa saat berlalu dengan indah, sang Nona itu terbangun dengan sedikit kecupan manis yang berharga dia berikan padaku, bukan untuk menyampaikan perpisahan, tapi lebih dari kecupan permulaan dia berikan. Sore ini aku mendapatkan kado indah dan sebagai pengalaman berharga yang diberikan gadis SMP itu.
Sambil dia membelikanku sebatang gudang garam, agar aku mendengarkan cerita anehnya itu,
tak pernah terlintas dalam otakku yang kecil ini dia akan bercerita tentang pengalamannya itu, dia seorang gadis yang masih belum cukup umur untuk berhubungan badan pikirku, maklum dia masih duduk dibangku SMP, tetapi apalah dayaku, dia sudah duluan membuka percakapan yang tak lazim ini, sementara percakapan itu dimulai terdengar suara menggelegar dari luar jendela petanda akan datangnya petir,guntur dan sahabat mereka hujan, sambil mendengarkan suara sang gadis yang sudah tak ‘gadis lagi’ ini, aku berdiri menutup jendela kamarku yang sempit itu, dan dia kembali lagi mengeraskan suara lembutnya itu. seiring dengan ceritanya ruangan kamar itu dipenuhi nafsu birahi terbius dipikiranku yang jorok ini, karena mendengar pengakuan dari anak tetanggaku bernama Nona. Aku sempat berpikir untuk mengikuti emosi ego yang aku miliki, tapi sorot matanya menghalang semua apa yang ingin aku lakukan, dengan sebuah pertannyaan.
“Kalau pengalamanya kamu seperti apa kak?”
Kaget dengan ekspresi diam dan ragu aku mulai memberanikan diri menggerakan bibir yang sempat kaku ini.
“ kalau saya belum pernah Nona”
sambil menyimpulkan senyuman aku menjawab,
dia juga tersenyum malu sempat takut, seperti dia malu dengan apa yang dia tanyaakan, sesaat suasana kamar itu hening hanya suara guntur menggelagar dari luar jendela, aku memaksa merubah suasana canggung itu dengan baik,
“nona mau teh?”
dengan senyuman manis yang keluar dari bibir mungil itu dia berdiri sambil berkata
“saya bisa buat teh sendiri kak, boleh?” jawabnya
Serentak Nona menuju ke dapur hendak membuatkanya sendiri ,seperti petir menyambar tubuhku saat permukaan kulitnya yang mulus itu tak disangka menyentuh jemariku pada saat dia hendak berdiri dari kasur yang berbahankan kapuk ini, aku terbius sesaat, padahal kontak ini sering terjadi antara kami berdua tetapi berbeda kali ini tak tahu kenapa berbeda rasanya, Mungkin karena batin yang bercampur ego birahi tinggi sedang menghantui pikiranku, sang nona hanya melemparkan senyum indahnya lagi kali ini, apa maksud senyuman itu? tanyaku dalam hati.
Aku berniat membantu sang Nona kali ini dengan senang hati, dia memintaku agar menunggu air sampai mendidih, sementara dia menyiapkan bahan-bahan tehnya itu, kontak yang tadinya terjadi kali ini sangat sering, maklum dapur rumahku sempit hanya seukuran 1/3 dari besar kamar tidurku, aku tak bisa menahan birahiku kali ini mencoba menahan anuku yang mulai terangsang naluri untuk melanjutkan kontak ini ketahap selanjutnya, tak disangka Nona mencoba menerima ransangan yang aku berikan dengan sentuhan yang sangat berbeda, seperti sudah terlatih aku mencoba memahami maksud dari bahasa tubuh itu, seakan tubuhku terhepas dari dunia yang indah menuju kesempurnaan surga oleh sentuhan dosa yang terjalin diantara kami berdua, diam sejenak setelah adegan intim ini terjadi,
aku memeluknya dan bicara,
“kamu suka?”
“suka kaka” jawabnya, dengan senyum dia berbicara padaku sambil merangkulku dengan erat bagian tubuhku yang hampir telanjang bulat ini dan menutup mata seakan ingin sejenak terlelap dalam pangkuanku, aku mulai berlagak membakar selinting tembakau yang kubeli sendiri kemarin sambil mengelus kepal anak gadis anak tetangga ini, terseyum puas keluar dari bibir yang berbau tembakau ini, seakan aku telah mencicipi tembakau terbaik dunia pikirku.
Beberapa saat berlalu dengan indah, sang Nona itu terbangun dengan sedikit kecupan manis yang berharga dia berikan padaku, bukan untuk menyampaikan perpisahan, tapi lebih dari kecupan permulaan dia berikan. Sore ini aku mendapatkan kado indah dan sebagai pengalaman berharga yang diberikan gadis SMP itu.
Benih cinta yang hampir tak ada saat kami berhubungan itu kini mulai tumbuh menjadi suatu perasaan saling memiliki, menjaga, memenuhi, dan menjaga kepercayaan. Kami berniat untuk merahasiakn hubungan ini hingga tunggu saat yang tepat untuk menceritakannya pada orang tua kami masing-masing, suatu kali ketika si nona ingin menyelesaikan pendidikannya kejenjeng yang lebih tinggi (SMA), kami ulai berpikir untuk memberitahukan hubungan kami kepada kedua orang tua sebelum dia dipindahkan kesekolah yang ada di kota kabupaten. Aku memberanikan diri membusungkan dada menghadap kedua orangtuannya dan berani berkata jujur, pintu rumahnya ku ketuk sambil menyahutkan salam
“selamat siang”
kudengar langkah kaki yang anggun menghampiri daun pintu itu, serta terdengar suara
“siang” ternyata itu adalah saudara perempuan sulung nona yang kebetulan dulunya satu SMA sama denganku,
“ eeee Rina, apa kabar? Bapak ada? Sapaku sambil meyimpulkan senyum itu,
“eeee Hendrik, baik Hen, kau apa kabar? Iya bapak ada, kenapa , ada perlu?
“ iya iya Rin sehat Rin, ada yang ingin saya sampaikan sama bapak, hehehe “
“ masuk Hen, tunggu yah, saya panggil bapa dulu”, sambil mempersilahkan saya untuk duduk, Rina menuju ke ruang kerja orangtuanya yang tepat berada di lantai dua rumah mereka, sementara Rina menaiki tangga, sang kembang yang membuatku beranikan diri datang kehadapan orangtuannya muncul diantara gorden pemisah kamar makan dan ruang tamu itu datang menghampiri aku dengan sorot mata yang keduanya indah dilihat, yang paling membuatku takjub adalah ketika sang Nona itu datang dengan sepasang piyama polos, dan menambah keindahan kecantikan alami dari sang Nona.
“ dari tadi sayang?” menghampiriku dan memberanikan diri mengecup bibirku yang kaku, aku hanya bisa terdiam menerima sepasang bibir manis itu kali ini,
“ iya sayang, bapa ada?”
“ itu ada” aku berdiri beranikan diri bersalaman dengan orang tua nona yang berpangkat jendral itu,
“eee Hendrik, ada perlu Hendrik?
“iya om, ada yang ingin saya sampaikan om”, sahutku kembali
“ sampaikan saja Hendrik, santai saja, silahkan kopinya diminum dulu”, sambil menunjukan gelas yang penuh terisi paduan antara gula dan kopi, disajikan dengan penuh cinta dari penyajinya.
“itu kopinya yang putar si Nona,” sahut bapak jendral dengan kumisnya yang rapi tak karuan,
“iya om, pantas nikmat sekali rasanya”
candaan kusampaikan agar suasana diruangan ini menjadi dingin, setelah menikmati manisnya tegukan dari kopi aku mulai memotong pembicaraan dengan berkata,
“ saya datang kemari untuk menjelaskan hubungan yang telah saya jalin dengan anak om, si nona” serentak suasana ruang tamu ini berubah menjadi sangat dramatis dan tak disanggka senyuman yang keluar dari bibir berbulu bapak jendral itu kembali memperbaik suasana yang sebelumnya kaku,
“ iya saya sudah dengar semuanya dari si Nona, saya setuju dengan hubungan kalian berdua,tapi si Nona harus menyelesaikan sekolahnya dulu, dan kamu harus menekuni usaha ayam bakar bapak mu itu, begitu hendik!” paham”? sahutnya,
pernyataan itu adalah hadiah natal terindah yang pernahku dapatkan, dengan suara agak lantang saya menyetujui persyaratan yang telah disampaikan oleh bapak jendral berkunis itu,
“ iya om saya setuju sekali, terima kasih banyak om”
Setelah berbicara panjang lebar dengan bapak jendral itu aku berniat mengajak si Nona untuk keluar sebentar menghirup udara segar di sekitar perkebunan cengkeh milik sang jendral, setelah mendapat izin dari sang jendral , kami segera bergegas menuju kebun cengkeh yang letknya tak jauh dari rumah mereka, disana hanya terdapat beberapa pohon cengkeh yang rimbun dan berbuah lebat. Aku bersandar niat untuk sekedar melepas lelah setelah percakapan yang sangat menguras mental ini, si Nona yang berpiyama tadi mendarat langsung merangkul tubuhku,
“kamu hebat sayang” sahutnya sambil kembali merangkulku dengan mesra
“ terima kasih sayang” kataku sambil memeluk mencium dan mulai mencumbunya, dosa yang nikmat itu kembali terulang tak kala senja jingga sang hari muncul diufuk barat.
“selamat siang”
kudengar langkah kaki yang anggun menghampiri daun pintu itu, serta terdengar suara
“siang” ternyata itu adalah saudara perempuan sulung nona yang kebetulan dulunya satu SMA sama denganku,
“ eeee Rina, apa kabar? Bapak ada? Sapaku sambil meyimpulkan senyum itu,
“eeee Hendrik, baik Hen, kau apa kabar? Iya bapak ada, kenapa , ada perlu?
“ iya iya Rin sehat Rin, ada yang ingin saya sampaikan sama bapak, hehehe “
“ masuk Hen, tunggu yah, saya panggil bapa dulu”, sambil mempersilahkan saya untuk duduk, Rina menuju ke ruang kerja orangtuanya yang tepat berada di lantai dua rumah mereka, sementara Rina menaiki tangga, sang kembang yang membuatku beranikan diri datang kehadapan orangtuannya muncul diantara gorden pemisah kamar makan dan ruang tamu itu datang menghampiri aku dengan sorot mata yang keduanya indah dilihat, yang paling membuatku takjub adalah ketika sang Nona itu datang dengan sepasang piyama polos, dan menambah keindahan kecantikan alami dari sang Nona.
“ dari tadi sayang?” menghampiriku dan memberanikan diri mengecup bibirku yang kaku, aku hanya bisa terdiam menerima sepasang bibir manis itu kali ini,
“ iya sayang, bapa ada?”
“ itu ada” aku berdiri beranikan diri bersalaman dengan orang tua nona yang berpangkat jendral itu,
“eee Hendrik, ada perlu Hendrik?
“iya om, ada yang ingin saya sampaikan om”, sahutku kembali
“ sampaikan saja Hendrik, santai saja, silahkan kopinya diminum dulu”, sambil menunjukan gelas yang penuh terisi paduan antara gula dan kopi, disajikan dengan penuh cinta dari penyajinya.
“itu kopinya yang putar si Nona,” sahut bapak jendral dengan kumisnya yang rapi tak karuan,
“iya om, pantas nikmat sekali rasanya”
candaan kusampaikan agar suasana diruangan ini menjadi dingin, setelah menikmati manisnya tegukan dari kopi aku mulai memotong pembicaraan dengan berkata,
“ saya datang kemari untuk menjelaskan hubungan yang telah saya jalin dengan anak om, si nona” serentak suasana ruang tamu ini berubah menjadi sangat dramatis dan tak disanggka senyuman yang keluar dari bibir berbulu bapak jendral itu kembali memperbaik suasana yang sebelumnya kaku,
“ iya saya sudah dengar semuanya dari si Nona, saya setuju dengan hubungan kalian berdua,tapi si Nona harus menyelesaikan sekolahnya dulu, dan kamu harus menekuni usaha ayam bakar bapak mu itu, begitu hendik!” paham”? sahutnya,
pernyataan itu adalah hadiah natal terindah yang pernahku dapatkan, dengan suara agak lantang saya menyetujui persyaratan yang telah disampaikan oleh bapak jendral berkunis itu,
“ iya om saya setuju sekali, terima kasih banyak om”
Setelah berbicara panjang lebar dengan bapak jendral itu aku berniat mengajak si Nona untuk keluar sebentar menghirup udara segar di sekitar perkebunan cengkeh milik sang jendral, setelah mendapat izin dari sang jendral , kami segera bergegas menuju kebun cengkeh yang letknya tak jauh dari rumah mereka, disana hanya terdapat beberapa pohon cengkeh yang rimbun dan berbuah lebat. Aku bersandar niat untuk sekedar melepas lelah setelah percakapan yang sangat menguras mental ini, si Nona yang berpiyama tadi mendarat langsung merangkul tubuhku,
“kamu hebat sayang” sahutnya sambil kembali merangkulku dengan mesra
“ terima kasih sayang” kataku sambil memeluk mencium dan mulai mencumbunya, dosa yang nikmat itu kembali terulang tak kala senja jingga sang hari muncul diufuk barat.
Hubungan percintaan kami semakin erat, hamper tak ada masalah ayang menghantui hubungan ini, hingga saat yang dinanti-nantipun tiba, sebulan setelah si Nona lulus SMA dan usahaku sukses, memiliki cabang dimana-mana, aku berniat untuk melamar Nona, dan lamaranku diterima dengan baik dari pihak si Nona. Dari semua urusan adat hingga resepsi pernikahanpun sukses, aku terharu menitihkan air mata bahagia, dimana gadisyang dari kecil adlah teman baikku, sekarang sudah menjadi pendamping hidupku sampai nanti aku mati kelak.
Satu minggu setelah resepsi pernikahan itu kami memutuskan untuk pergi berbulan madu ke pulau Bali menetap disana untuk beberapa minggu. Berjalan-jalan menikmati alamnya yang tak sesejuk alam dikampung halaman kami, Bali memberi sedikit pesona bulan madu yang kami dambakan.
ditempat yang indah inilah aku melihat sang kumbang datang menyapa sang kembang sepatu berharap terjadi jalinan kasih yang diharapkan sang kumbang.
Satu minggu setelah resepsi pernikahan itu kami memutuskan untuk pergi berbulan madu ke pulau Bali menetap disana untuk beberapa minggu. Berjalan-jalan menikmati alamnya yang tak sesejuk alam dikampung halaman kami, Bali memberi sedikit pesona bulan madu yang kami dambakan.
ditempat yang indah inilah aku melihat sang kumbang datang menyapa sang kembang sepatu berharap terjadi jalinan kasih yang diharapkan sang kumbang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar