Kamis, 26 Maret 2015

kolam susu??

'Bukan lautan tapi kolam susu Kail dan jala cukup menghidupimu' Lirik lagu 'kolam susu' yg membangga-banggakan indonesia. Sudah membius dan terniang di ratusan bahkan jutaan kepala rakyat indonesia. Benarkah indonesia itu 'kolam susu' seperti penggalan lirik lagu koes plus? Bagi sebagian petinggi negara, pemerintah, pejabat, pengusaha, pelacur, pecandu di ibukota jakarta mungkin setuju dengan lirik tersebut, apakah koes plus sudah pernah mempertimbangkan dengan saudara kita di daerah perbatasan, daerah indonesia timur? Ataukah mereka hanya melihat kekayaan alamya saja? Hahahahaha. Ini indonesia bung, bukan Jawa, apalagi Jakarta. Cobalah gunakan hati nurani kalian untuk mampir, menengok saudara kalian di perbatasan, di daerah timur Indonesia jangan kau makan mereka, kasih mereka piring sendok dan garpu biar mereka bisa cari makan, dukung mereka. Jangan kau curi makanannya, jangan kau suap mereka. Mereka hanya perlu sekolah, hutan, dan kolam ikan, bukan 'kolam susu'. Filosofi 'kolam susu' yang berarti makmur,kaya itu sangat bertolak belakang dengan kehidupan alamiah bagi manusia di indonesia timur, pemimpin minum susu 'kami' minum 'tuak' kata petuah adat disana, ditimur, 'kasihan' bukan sepenggal 'kata' pasti untuk merangkul mereka, mungkin 'tolong' adalah kunci keberhasilan mereka.

Kopi Ruteng

Kopi Ruteng




Segelas kopi dipagi hari.
Bukan sekedar kopi,gula dan air. Ada setumpuk semangat yang tersirat antara kombinasi yang tepat. 
Ada harapan yang tetap hidup
Ada cinta dari yang menyajikan
Tidak terlalu manis, tidak juga pahit, ditemani sebatang 'gudang garam filter' sudah cukup untuk menikmati semuanya. Kenikmatan yang hanya datang di saat yang pas. Terima kasih untuk kopi hitam yang indah di minggu pagi yang kudus ini.

ini tentang kopi lagi
kali ini sedikit berbeda dari kopi yang biasanya.
jujur saya bukan pecinta kopi yang handal, tapi setelah mendalami rasa nikmat dari secangkir kopi yang disajikan dengan permintaan yang tepat dan tempat yang baru.
saya pernah merasakan jenis kopi yang sama tetapi di tempat yang berbeda, diwunis pertama kali saya menikmati kopi 'espresso' yang pahit tapi mantap.
terima kasih telah menyajikan kopi pahit yang sadis.
terima kasih juga buat sepasang kupu-kupu itu.




Bintang


                 kau juga bintang  kau itu bintangku,bukan Tuhanku, bukan binatang ,bukan anggota tata surya, bukan juga bintang natal, apalagi nama seseorang, kau itu hanya kau yg ingin kugapai, tapi jauh, bukan cita-cita, bisa melihatmu tertawa itu cita-cita,

diantara riuh, gaduh, simpangsiur semestakau hadir dengan terang,damai serta tanda Tanya,kenapa?hahahahahahahahsedikit berpikir tentang cahayamu diantara kabut-kabut hidupmemulai, merasakan, memaksakan sinarmu menerangi lampionsenandungkan cahayamu, harapku.bersiul memandangmu, berharap, bermimpi, tak apa kataku. berbisik di hati, tersenyumlah bintang
indah seperti bintangbintang yang memang bintangbukan berarti batu,bintang dengan rasadicicipi bukan hanya manis,kadang pahit, kadang hambar, kadang juga nikmatterang tapi takuttakut juga cantikcantik yang indah itu Tuhan,bintang juga adaada indahnya, cantiknya, ada cinta, sayang kau bukan TUhan,mengenal sudah cukup, berharappun sudahsempat suka, tapi jauh.disinari cinta, itu harapancinta adalah satubintang jatuh, ada cinta  bintangbola matamu,sinarmu,namamu,ada dihariku,adakah celah, bintang?

Dia

        

 
                                                                                                
Saya adalah saya yang akan tetap seperti saya dan selalu menjadi saya,
saya juga hanya saya tetapi saya bukanlah Dia.
Yang  seperti saya itu hanya saya  bukan saya yang saya bicarakan
Saya hidup, saya makan, saya ada, saya tidur, dan saya pun mati.
Tetapi saya tak seperti saya yang lain,
Tak seperti saya yang kaya
Tak juga pantas disapa Dia
Dia yang mengijinkan saya ada untuk makan
Dia baik, Dia adil, Dia indah, dan Dia ada

Saya yakin saya yang lain juga sama seperti saya.
Sama makan dan matinya.
Tapi saya bukan milik saya, ada Dia
Banyak saya ingin seperti Dia
Jangan menginginkan Dia
Dia marah, saya mati
Dia beri saya duri, salah duri saya mati
Duri tumpul saya asa
mereka datang saya jaga
mereka pergi saya senang
mereka itu siapa? Tanya saya
Dia bilang mereka juga mereka yang Dia tahu
mereka itu jelas seperti Dia
mereka ingin saya ada.
saya bingung saya ada untuk apa?
saya harap untuk Dia
harap saya ada untuk mereka.

Saya tahu saya merah,saya wangi,saya indah
tapi kenapa mereka? Dia bilang saya ada untuk mereka
mereka senang dengan saya,saya takut mereka bukan Dia.
mereka beli, Dia jual, saya bingung.
Kau tahu siapa saya,
saya juga tahu Dia siapa.

Penggunaan Bahasa Inggris dalam Pidato Resmi Kenegaraan Oleh Presiden SBY









A.     Judul penelitian
 
                        Penggunaan Bahasa Inggris dalam Pidato Resmi Kenegaraan Oleh Presiden Susilo                                  Bambang Yudoyono (analisis pada jejaring sosial you-Tube)

B.      Latar belakang masalah
                Semua manusia termasuk mereka yang hidup di daerah terpencil menggunakan bahasa untuk saling berkomunikasi. Bahasa menjadi sangat penting karena apapun yang dilakukan oleh manusia ketika berinteraksi dengan sesamanya adalah dengan media bahasa ini. Manusia saling berinteraksi dengan sesamanya dengan berbicara. Berbicara langsung (dengan lisan) dengan saling bertatap muka, berbicara melalui telepon atau mungkin cukup dengan menggunakan fasilitas handphone, dengan sms, misalnya.
                Anggapan bangsa kita yang seperti itu sebenarnya adalah anggapan yang keliru. Kita seharusnya mengambil falsafah orang Jepang yang dalam belajar bahasa kedua mereka beranggapan ‘get the content, leave lhe language behind’ (dapatkan ide yang ada dalam bahasa tersebut dan tinggalkan bahasa asing tersebut). Mereka berkeyakinan bahwa tanpa menguasai bahasa Inggris pun, mereka akan sanggup menjadi bangsa yang besar. Dengan menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan ke dalam bahasa sendiri tentu akan lebih membawa manfaat karena akan lebih mudah dibaca oleh masyarakat kita, daripada harus sibuk membaca buku-buku barat dengan menyanding kamus besar bahasa Inggris.
                Mungkin bahasa inggris saat ini memang sangat dominan, karena saat ini memang saat globalisasi dan bahasa inggris juga menjadi bahasa internasional, tapi kalau kita terlalu mengutamakan bahasa inggris, bagaimana bengan bahasa pemersatu kita, bahasa Indonesia? Dan bahasa yang sudah kita bawa sejak lahir yaitu bahasa daerah? Apakah kita dengan begitu saja melupakan, kalau semua masyarakat sudah menganggap bahasa inggris adalah yang paling penting.
                Presiden Susilo Bambang Yudoyono merupakan presiden Indonesia yang ke-6  yang populer dikalangan masyarakat Indonesia.  Susilo Bambang yudoyono menjabat menjadi presiden setelah beliau memenangkan pilpres pada tahun 2004. Selain menjadi presiden Republik Indonesia beliau juga menjadi ketua umum partai demokrat, partai yang memenangkan beliau pada pesta demokrasi pada tahun 2004. Kepemimpinan  SBY  tidak berakhir di satu periode saja, beliau juga menang pada pemilihan presiden tahun 2009 yang menjadikan beliau sebagai presiden untuk kedua kalinya.
 seiring berjlannya waktu beliau banyak di timpah oleh masalah politik dari kalangan partai maupun dari cabinet yang beiau bentuk  bernama kabinet Indonesia bersatu jilid II.
          Dari sekian masalah yag beliau hadapi ternyata ada masalah yang sangat pribadi dari beliau, yaitu penggunaan bahasa inggris dalan setiap pidato kenegaraan yang diberikan untuk masyarakat luas. Gambaran realitas diatas menjadi acuan dan obyek yang menarik bagi penulis untuk diteliti dan kemudian dijadikannya sebagai materi dan pokok pembahasan dalam betuk proposal skipsi . penulis sangat tertarik dengan video yang diunggah dijejaring sosial you-tube tentang pidato kenegaraan presiden.
C.      Rumusan Masalah
                Selama ini ada semacam anggapan yang kuat bahwa pidato kenegaraan sangat bersifat objekti, apalagi bila menyangkut kehidupan bernegara.  Anggapan ini tentu saja perlu diluruskan bahwa mengingat apapun isi dari pidato kenegaraan itu sangat penting.
                berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan sebagai berikut “  penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan “

D.     Tujuan penelitian
1.       Untuk memahami masalah sosiolinguistik dalam penyampaian pidato kenegaraan yang disampaikan oleh Bapak Susilo Bamabang Yudoyono.

E.      Manfaat penelitian

1.       Akademis
a.       Untuk dapat menerapkan ilmu bahasa yang baik dalam penelitian mengenai analisis pidato kenegaraan yang disampaikan oleh Presiden.
b.      Mendapatkan pengalaman penelitian sesuai dengan disiplin ilmu bahasa yang selama ini ditempuh saat perkuliahan

2.       Praktik
a.       Memberikan gambaran umum kepada masyarakat dan mahasiswa tentang pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
b.      Sebagai evaluasi terhadap masyarakat dan mahasiswa dalam menerapkan isi dari pidato kenegaraan yang disampaikan .


F.        Metodologi Penelitian
           Penelitian ini berjudul “penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan” termasuk jenis penelitian deskripsi. Instrumen dalam penelitian ini adalah meneliti sendiri yang dibekali seperangkat pengetahuan tentang sosiolinguistik bahasa sebagai alat atau instrumennya. Data dan sumber data dalam penelitian ini adalah berupa kalimat tuturan atau ujaran bahasa inggris yang terkandung dalam penyampaian pidato kenegaraan.    
1.              Pendekatan penelitian
Penelitian ini tidak menekankan generalisasi tetapi yang lebih ditekan ialah tentang masalah sosiolinguistik dalam penyampaian pidado kenegaraan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Berikut adalah karateristik penelitian kualitatif.
a.          Dilakukan pada kondisi yang alamiah,langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrument kunci.
b.         Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif, data yang terkumpul berbenteuk kata-kata, sehingga tidak menekankan pada angka dan grafik.
c.          Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses.
d.         Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif
e.         Penelitian kulitatif lebih menekankan pada makna.

G.     Teknik pengumpulan data
                Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak. Teknik yang dipilih adalah teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan,  sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik ganti atau teknik distribusi.Metode penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode penyajian yang bersifat informal.

H.     Narasumber 
                Sumber informasi sekaligus narasumber dalam penelitian ini adalah jejaring sosial you-Tube, sedangkan objek penelitian ini adalah video pidato kenegaraan yang disampaikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyonodan diunggah ke jejaring sosial you-Tube.
                Penulis memilih you-Tube sebagai narasumber, dengan harapan dapat memperoleh data atau video yang lengkap sesuai dengan kebutuhan penulis dalam menyusun proposal ini.  












I.        Hasil dan Pembahasan
Pada bagian ini akan dideskripsikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan. Hal yang dideskripsikan tersebut adalah (1) penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam membacakan teks pidato (2) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan.

a.       Bahasa Indonesia yang baik dan benar
       1. Bahasa Indonesia yang Baik
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu terikat pada patokan. Dalam situasi formal seperti kuliah, seminar, dan pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal yang selalu memperhatikan norma bahasa.
      2. Bahasa Indonesia yang Benar
Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika kaidah ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata ditaati secara konsisten, pemakaian bahasa dikatakan benar. Sebaliknya jika kaidah-kaidah bahasa kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar atau tidak baku.
Hymes (1974) dalam Chaer (1994:63) mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :
 1.  Setting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan. Contohnya, percakapan yang terjadi di kantin sekolah pada waktu istirahat tentu berbeda dengan yang terjadi di kelas ketika pelajaran berlangsung.
2.    Participants, yaitu orang- orang yang terlibat dalam percakapan. Contohnya, antara karyawan dengan pimpinan. Percakapan antara karyawan dan pimpinan ini tentu berbeda kalau partisipannya bukan karyawan dan pimpinan, melainkan antara karyawan dengan karyawan.
3.    Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan. Misalnya, seorang guru bertujuan menerangkan pelajaran bahasa Indonesia secara menarik, tetapi hasilnya sebaliknya, murid-murid bosan karena mereka tidak berminat dengan pelajaran bahasa.
4.   Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan. Misalnya dalam kalimat:
               a. Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan. Misalnya                           dalam kalimat:
               b. Sinta berkata dalam hati, semoga dia diterima di perguruan tinggi negeri.
                    Perkataan “Semoga aku diterima di perguruan tinggi negeri” pada kalimat (a) adalah                        bentuk percakapan, sedangkan kalimat (b) adalah contoh isi percakapan.
5.  Key, yaitu menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.
6.  Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan.
7.  Norm, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.
8.  Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.
   3. Diperlukan Adanya Undang-Undang Kebahasaan
Masih teringat pada benak kita beberapa tahun lalu pemerintah mencanangkan undang-undang tentang penggunaan bahasa Indonesia yang mengharamkan penggunaan bahasa asing di ruang umum. Hal tersebut menggambarkan kerja pemerintah yang dinilai masih setengah-setengah terhadap bahasa bangsa sendiri.
Dengan adanya undang-undang penggunaan bahasa diarapkan masyarakat Indonesia mampu menaati kaidahnya agar tidak mencintai bahasa negara lain di negeri sendiri. Sebagai contoh nyata, banyak orang asing yang belajar bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa informal dan gaul.

    4.  Peran Variasi Bahasa dan Penggunaannya
Variasi bahasa terjadi akibat adanya keberagaman penutur dalam wilayah yang sangat luas. Penggunaan variasi bahasa harus disesuaikan dengan tempatnya (diglosia), yaitu antara bahasa resmi atau bahasa tidak resmi.
    1. Variasi bahasa tinggi (resmi) digunakan dalam situasi resmi seperti, pidato kenegaraan, bahasa pengantar pendidikan, khotbah, suat menyurat resmi, dan buku pelajaran. Variasi bahasa tinggi harus dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah.
    2. Variasi bahasa rendah digunakan dalam situasi yang tidak formal, seperti di rumah, di warung, di jalan, dalam surat-surat pribadi dan catatan untuk dirinya sendiri. Variasi bahasa ini dipelajari secara langsung dalam masyarakat umum, dan tidak pernah dalam pendidikan formal.

    5. Menjunjung Tinggi Bahasa Indonesia di Negeri Sendiri
Sebenarnya apabila kita mendalami bahasa menurut fungsinya yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama dan utama di negara Republik Indonesia.
Bahasa daerah yang berada dalam wilayah republik bertugas sebagai penunjang bahasa nasional, sumber bahan pengembangan bahasa nasional, dan bahasa pengantar pembantu pada tingkat permulaan di sekolah dasar di daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain. Jadi, bahasa-bahasa daerah ini secara sosial politik merupakan bahasa kedua.
B.   faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan.
a.  Banyaknya istilah-istilah inggris yang belum di artikan kedalalam bahasa Indonesia
b. Adanya para duta besar dari berbagai Negara yang mendengarkan pidato tersebut.
c. banyaknya istilah yang harus disampaikan dalam bahasa inggris







D.  Simpulan dan Saran
1.    Simpulan
·         A. Simpulan
                Gejala bahasa yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia dianggap asebagai penyimpangan terhadap bahasa. Kurangnya kesadaran untuk mencintai bahasa di negeri sendiri berdampak pada tergilasnya atau lunturnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya dalam masyarakat.
                Salah satu kebijakan untuk tetap melestarikan bahasa nasional adalah pemerintah bersama segenap lapisan masyarakat menjunjung tinggi bahasa Indonesia agar tetap menjadi bahasayang dapat dibanggakan dan sejajar dengan bahasa-bahasa di seluruh dunia.

B. Saran
                Bahasa Indonesia sekarang ini sudah tercampur dengan bahasa-bahasa asing. Berbagai alasan menghampiri kenapa warga Indonesia lebih suka menggunakan bahasa asing dari pada bahasa Indonesia, salah satu alasannya karena menurut mereka menggunakan bahasa asing lebih memiliki nilai. Bahkan kita mencari pekerjaanpun banyak yang mensyaratkan harus menguasai bahasa asing terutama bahasa inggris.
                Kita sebagai warga Indonesia khususnya sebagai mahasiswa sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kitapun harus memupuk diri kita serta generasi muda lainnya agar bangga terhadap bahasa Indonesia sehingga bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
 
DAFTAR PUSTAKA

http://You-Tube/pidato presiden sby dalam bidang ekonomi
 Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowipjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono (eds). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
 Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai.2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
 Sabariyanto, Dirgo. 2001. Kebakuan dan Ketidakbakuan dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

TELAAH DRAMA INDONESIA ANALISIS STRUKTURAL NASKAH DRAMA MALAM JAHANAM


1.       Pendahuluan
Drama merupakan salah satu genre sastra yang menarik untuk dibahas. Istilah drama itu sendiri sudah menyiratkan makna ‘peristiwa’, ‘karangan’, dan ‘risalah’.Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan di anatara tokoh-tokoh yang ada.
Malam Jahanam merupakan sebuah drama ciptaan Motinggo Busje yang ditulis pada tanggal 1 Juni 1958 di Teluk Betung. Drama ini merupakan drama satu babak yang menampilkan sisi gelap manusia disamping aspek ketulusan dan kelembutan hati.
Dalam makalah ini, penulis menggunakan pendekatan objektif sebagai pendekatan dalam menganalisis Malam Jahanam. Pendekatan objektif merupakan sebuah pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang sedikit banyak bersifat otonom. Pendekatan ini mencoba untuk memaparkan suatu karya sastra secara struktural. Dalam makalah ini, penulis mencoba menganalisis drama Malam Jahanam sebagai suatu karya yang mempunyai otonomi penuh. Oleh karena itu, penulis tidak mengaitkan karya dengan lingkungannya, seperti pengarang dan pembacanya. Penulis hanya membahas sistem formalnya yang membangun keutuhan karya, yaitu alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat.

2.       Analisis Drama Malam Jahanam
2.1   Realisme Dalam Malam Jahanam
Sesuai dengan salah satu karakteristik drama realis, Malam Jahanam tidak memperindah maupun memperburuk sesuatu dari keadaan sebenarnya. Drama ini menceritakan perselingkuhan sebagaimana adanya pada masa naskah drama ini ditulis, yaitu pada tahun 1950-an.
Malam Jahanam juga menyampaikan perselingkuhan ini ke permukaan tanpa menutupi kebenaran yang terjadi di sekitarnya. Motinggo Busye dengan jujur mengemukakan bagaimana tanggapan masyarakat saat itu dan reaksi orang-orang yang berhubungan dengan perselingkuhan ini. Drama ini merupakan penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat. Penyebab dan dampak dari perselingkuhan Paijah dengan Soleman, kematian Mat Kontan Kecil yang tragis, dan keegoisan Mat Kontan dapat dipelajari oleh masyarakat dan dipetik hikmah serta amanatnya. Dengan demikian, Malam Jahanam dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat.Karakteristik drama realis yang tidak kalah penting adalah manusia diharuskan mampu mempertahankan dirinya di tengah lingkungan tanpa harus melarikan diri dari kenyataan. Tokoh-tokohnya dihadapkan pada cobaan-cobaan yang memojokkan mereka. Baik Soleman, Paijah, maupun Mat Kontan, ketiganya mempunyai masalah yang membuat mereka tertekan. Akan tetapi, mereka tidak sanggup menghadapinya secara langsung dan memilih untuk melarikan diri di balik rahasia dan keyakinan palsu yang dibuat-buat.
2.2   Alur
Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Alur Malam Jahanam adalah alur maju atau linear, yaitu peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya secara berurutan. Alur ini berlangsung secara bersambung dan memuncak.
Unsur-unsur alur dalam drama ada tiga (Sumardjo, 1994: 141), yaitu;
1.       Unsur ketegangan
Ketidakpastian yang berkepanjangan dan semakin menjadi-jadi akan menimbulkan ketegangan. Adanya ketegangan dalam drama menumbuhkan dan memelihara rasa ingin tahu penonton dari awal sampai akhir suatu cerita.
2.       Unsur dadakan
Unsur dadakan akan menyusun cerita sedemikian rupa hingga muncul dugaan-dugaan yang tidak disangka-sangka oleh pembaca dan mengagetkan.
3.       Unsur ironi dramatik
Unsur ini membentuk pernyataan-pernyataan atau perbuatan-perbuatan tokoh cerita yang seakan-akan meramalkan apa yang akan terjadi.
Dalam drama Malam Jahanam, terlihat unsur ketegangan dan unsur dadakan. Unsur ketegangan terjadi ketika Soleman mengaku kepada Mat Kontan bahwa dialah yang membunuh burung beo dan bahwa Mat Kontan Kecil adalah anak kandungnya.
Soleman          : Sayalah yang melakukannya!
Mat Kontan     : (berputar mengambil tempat ke dekat rumahnya) Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?
Soleman          : Ya, Saya iri!
Mat Kontan     : Memang benar tebakan saya tadi-tadi.
Soleman          : Ya! Saya iri pada semua yang kau punya. Pada uangmu. Pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!
Mat Kontan     : Memang kau jahanam!
Soleman          : Memang saya jahanam. Tapi  kau juga jahanam (dan membalikan badan ke arah Paijah) kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (lambat) Dan anak yang menangis itu juga jahanam!
Mat Kontan     : Kenapa kau hina anak saya ha?
Soleman          : Ia bukan anakmu!
Unsur dadakan dalam drama Malam Jahanam terlihat ketika Soleman mengaku kepada Paijah bahwa dialah yang membunuh burung beo milik Mat Kontan. Pengakuan Soleman membuat kejutan atau dadakan bagi pembaca.
Soleman          : Mungkin saya juga, Jah. Sekarang saya lebih baik mengaku saja (mereka kini saling berpandang). Saya juga punya takut (diam). Mungkin juga Nabi. Tapi Jah, saya bunuh beo itu karena binatang jahanam itu telah menyiksa saya!
Paijah              : (terkejut mendengar berita baru itu) Apa? Kau bunuh? Kau yang memotong lehernya?
2.3   Latar
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita Latar dibedakan atas dua macam yaitu latar sosial dan latar fisik atau material. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya. Latar sosial dalam Malam Jahanam adalah lingkungan para pelayan yang hidup dalam kemiskinan. Bahasa yang digunakan kasar dan kurang sopan.
Di pinggir laut kota kami, para nelayan tampaknya selalu gembira, biarpun betapa miskinnya. Rumah mereka terdiri dari geribik, tonggak bambu dan beratap daun kelapa. Suara mereka yang keras dan gurau kasar mereka, seolah-olah mengesankan bahwa mereka kurang berpendidikan.
Latar fisik dalam drama Malam Jahanam yaitu di sebuah perkampungan nelayan. Penggambaran latar fisik dalam drama ini sangat jelas dan mendetail, seperti yang dicirikan dalam sebuah karya drama realis.
2.4   Tokoh Dan Penokohan
Tokoh-tokoh dalam drama ini adalah Mat Kontan, Paijah, Soleman, Utai dan Tukang Pijat. Berdasarkan fungsinya, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral dapat dibagi menjadi tokoh protagonis, antagonis, dan wirawan atau wirawati.
Tokoh protagonis dalam Malam Jahanam adalah Soleman sedangkan tokoh antagonisnya adalah Mat Kontan. Paijah memegang peranan sebagai tokoh wirawati. Tokoh-tokoh bawahannya adalah Utai dan Tukang Pijat. Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Metode penyajian penokohan dapat dibagi menjadi metode langsung, tak langsung, dan kontekstual. Malam Jahanam menggunakan metode langsung dan tak langsung.
Watak Mat Kontan adalah sombong, angkuh, penakut, egois, emosional. Dia tetap membanggakan istri dan anaknya padahal dia sudah menduga bahwa istrinya tidak setia dan Mat Kontan Kecil bukanlah anak kandungnya. Mat Kontan dapat disebut penakut karena dia takut Soleman akan membongkar rahasianya yang pernah terperosok ke dalam pasir.
Mat Kontan     : (takut) Jangan bilang perkataan itu, Man. Saya paling takut kalau kaubilang perkataan itu (melepaskan). O, aku takut kalau kauulangi cerita lama itu. Saya adalah orang yang kepingin panjang umur, Man. He, kau masih ingat peristiwa itu, Man?
Watak Soleman adalah pengecut, besar mulut, dan pembual. Ketika Paijah menceritakan ketakutannya terhadap Mat Kontan kepada Soleman, Soleman berjanji akan melindungi Paijah. Soleman berkata bahwa dia bukan penakut. Padahal, sebenarnya dia adalah pengecut. Karena takut terhadap amarah Mat Kontan, Soleman kabur naik kereta api, meninggalkan Paijah dan anak kandungnya yang sedang sakit.Watak Paijah adalah pencemas dan tidak setia. Ia takut Soleman dan dirinya sendiri akan dibunuh oleh Mat Kontan apabila masalah burung beo dan perselingkuhan mereka terungkap. Ia juga takut dirinya dan Soleman akan diusir dari kampung apabila ada yang mengetahui perihal perselingkuhan mereka.
Paijah juga seorang istri yang tidak setia. Ia berselingkuh dengan Soleman yang merupakan teman dekat suaminya. Meskipun Mat Kontan egois dan mandul, tidak seharusnya Paijah lari ke dalam pelukan laki-laki lain selama statusnya masih sebagai istri Mat Kontan.
Watak Utai adalah setia. Dia selalu menuruti perintah Mat Kontan, bahkan dapat dikatakan bahwa Utai adalah tangan kanannya. Watak Tukang Pijat tidak begitu terlihat karena kemunculannya terlalu singkat.
2.5   Tema Dan Amanat
Tema Malam Jahanam adalah tentang kehidupan manusia . Dalam drama ini, kita bisa melihat kehidupan manusia yang memiliki dua sisi yang berbeda yakni sisi buruk dan sisi baik. Sisi buruk manusia melalui tokoh Mat Kontan yang tidak mempedulikan orang lain, Paijah yang cepat putus asa, serta Soleman yang  suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yaitu berselingkuh dengan istri teman seperjuangannya . Sisi baik manusia dapat kita lihat pada kelembutan hati Paijah terhadap anaknya serta Soleman yang mengakui kesalahannya pada Mat Kontan.
 Amanat naskah Malam Jahanam adalah manusia sebagai makhluk sosial  harus saling peduli terhadap sesama,harus berbesar hati jangan cepat putus asa, dan saling  percaya satu sama lain. Kita juga harus bertanggung jawab atas semua yang telah kita lakukan walaupun akan berdampak buruk bagi kita. Seperti halnya Paijah dan Soleman yang mengakui kesalahan mereka dan harus bersedia menanggung akibatnya.
Amanat lainnya adalah orang yang lemah selalu menjadi korban atas keserakahan manusia. Amanat ini dapat kita ambil dari Mat Kotan Kecil, bayi yang lemah dan tidak berdaya, yang meninggal akibat keegoisan orang tuanya. Amanat yang tidak kalah pentingnya adalah pasangan suami istri harus saling percaya dengan pasangannya agar tak akan terjadi malam jahanam ini.
2.6   Struktur Dramatik
a.       Eksposisi
Drama ini merupakan penggambaran keadaan nyata yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat. Penyebab dan dampak dari perselingkuhan Paijah dengan Soleman, kematian Mat Kontan Kecil yang tragis, dan keegoisan Mat Kontan dapat dipelajari oleh masyarakat dan dipetik hikmah serta amanatnya. Dengan demikian, Malam Jahanam dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat. Pengolahan situasinya sangat bagus dan tepat menuju peristiwa berikutnya. Sebab-akibat antarperistiwa terlihat jelas.


b.      Komplikasi
Dalam naskah drama Malam Jahanam ini terdapat beberapa konflik yang terjadi yaitu pada Soleman mengakui bahwa Solemanlah yang membunuh burung beo milik Mat Kontan dan pengakuan Soleman tentang status anak dari Mat kontan yang melainkan anak hasil perselingkuhan antara Paijah dan Soleman.
c.       Klimaks
Titik puncak yang terjadi dalam naskah drama ini yaitu pada saat Soleman mengaku bahwa yang membunuh burung beo Mat kontan dan menceritakan bahwa anak dari paijah adalah anaknya, sehingga Mat Kontan naik darah dan mengajak berkelahi Soleman. Padi akhir cerita ternyata si Utai lah yang menjadi korban dari konflik antara mat Kontan, Soleman dan Paijah. Utai mati ditendang oleh Soleman akibat memegangi Soleman, tapi Soleman berhasil melarikan diri.
d.      Resolusi
Akhir dari cerita dalam naskah drama Malam Jahanam ini saya seperti dibuat bingung akan keberadaan  tokoh  Soleman  yang  entah  pergi kemana setelah kejadian itu.Bagaimana berlanjutnya hubungan keluarga antara Mat Kontan dengan Istrinya Paijah yang diceritakan hanyalah setelah kejadian itu?
3.       Kesimpulan
Drama malam jahanam memenuhi karakteristik-karakteristik drama realis, mengharuskan tokoh-tokohnya bertahan di tengah lingkungan tanpa melarikan diri dari masalah. Seperti halnya yang terjadi dilingkungan masyarakat pada saat itu.
Setelah menganalisis Malam Jahanam dengan pendekatan objektif,penulis menemukan bahwa teks drama malam jahanam ini merupakan salah satu karya sastra yang dapat membuat pembaca mengetahui tentang kehidupan masyarakat yang  terjadi pada tahun 1950-an. Kesimpulan kali ini adalah tema dari naskah malam jahanam  tentang kehidupan manusia. Dalam drama ini, kita bisa melihat kehidupan manusia yang memiliki dua sisi yang berbeda yakni sisi buruk dan sisi baik. Penulis juga mengambil kesimpulan dari amanat yang terdapat dalam naskah drama ini, yakni manusia sebagai makhluk sosial  harus saling peduli terhadap sesama, harus berbesar hati, jangan cepat putus asa, dan saling  percaya satu sama lain. Kita juga harus bertanggung jawab atas semua yang telah kita lakukan walaupun akan berdampak buruk bagi kita.



DAFTAR PUSTAKA
Budianta, Melani, dkk. 2006. Membaca Sastra. Magelang: IndonesiaTera.
Busye, Motinggo. 1995. Malam Jahanam. Jakarta: Pustaka Jaya.
Jassin, H.B. 1985. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei IV. Jakarta: Gramedia.
Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1994. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Pustaka Jaya.

Yudiaryani. 2002. Panggung Teater Dunia.Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli.