Kamis, 26 Maret 2015

Penggunaan Bahasa Inggris dalam Pidato Resmi Kenegaraan Oleh Presiden SBY









A.     Judul penelitian
 
                        Penggunaan Bahasa Inggris dalam Pidato Resmi Kenegaraan Oleh Presiden Susilo                                  Bambang Yudoyono (analisis pada jejaring sosial you-Tube)

B.      Latar belakang masalah
                Semua manusia termasuk mereka yang hidup di daerah terpencil menggunakan bahasa untuk saling berkomunikasi. Bahasa menjadi sangat penting karena apapun yang dilakukan oleh manusia ketika berinteraksi dengan sesamanya adalah dengan media bahasa ini. Manusia saling berinteraksi dengan sesamanya dengan berbicara. Berbicara langsung (dengan lisan) dengan saling bertatap muka, berbicara melalui telepon atau mungkin cukup dengan menggunakan fasilitas handphone, dengan sms, misalnya.
                Anggapan bangsa kita yang seperti itu sebenarnya adalah anggapan yang keliru. Kita seharusnya mengambil falsafah orang Jepang yang dalam belajar bahasa kedua mereka beranggapan ‘get the content, leave lhe language behind’ (dapatkan ide yang ada dalam bahasa tersebut dan tinggalkan bahasa asing tersebut). Mereka berkeyakinan bahwa tanpa menguasai bahasa Inggris pun, mereka akan sanggup menjadi bangsa yang besar. Dengan menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan ke dalam bahasa sendiri tentu akan lebih membawa manfaat karena akan lebih mudah dibaca oleh masyarakat kita, daripada harus sibuk membaca buku-buku barat dengan menyanding kamus besar bahasa Inggris.
                Mungkin bahasa inggris saat ini memang sangat dominan, karena saat ini memang saat globalisasi dan bahasa inggris juga menjadi bahasa internasional, tapi kalau kita terlalu mengutamakan bahasa inggris, bagaimana bengan bahasa pemersatu kita, bahasa Indonesia? Dan bahasa yang sudah kita bawa sejak lahir yaitu bahasa daerah? Apakah kita dengan begitu saja melupakan, kalau semua masyarakat sudah menganggap bahasa inggris adalah yang paling penting.
                Presiden Susilo Bambang Yudoyono merupakan presiden Indonesia yang ke-6  yang populer dikalangan masyarakat Indonesia.  Susilo Bambang yudoyono menjabat menjadi presiden setelah beliau memenangkan pilpres pada tahun 2004. Selain menjadi presiden Republik Indonesia beliau juga menjadi ketua umum partai demokrat, partai yang memenangkan beliau pada pesta demokrasi pada tahun 2004. Kepemimpinan  SBY  tidak berakhir di satu periode saja, beliau juga menang pada pemilihan presiden tahun 2009 yang menjadikan beliau sebagai presiden untuk kedua kalinya.
 seiring berjlannya waktu beliau banyak di timpah oleh masalah politik dari kalangan partai maupun dari cabinet yang beiau bentuk  bernama kabinet Indonesia bersatu jilid II.
          Dari sekian masalah yag beliau hadapi ternyata ada masalah yang sangat pribadi dari beliau, yaitu penggunaan bahasa inggris dalan setiap pidato kenegaraan yang diberikan untuk masyarakat luas. Gambaran realitas diatas menjadi acuan dan obyek yang menarik bagi penulis untuk diteliti dan kemudian dijadikannya sebagai materi dan pokok pembahasan dalam betuk proposal skipsi . penulis sangat tertarik dengan video yang diunggah dijejaring sosial you-tube tentang pidato kenegaraan presiden.
C.      Rumusan Masalah
                Selama ini ada semacam anggapan yang kuat bahwa pidato kenegaraan sangat bersifat objekti, apalagi bila menyangkut kehidupan bernegara.  Anggapan ini tentu saja perlu diluruskan bahwa mengingat apapun isi dari pidato kenegaraan itu sangat penting.
                berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan sebagai berikut “  penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan “

D.     Tujuan penelitian
1.       Untuk memahami masalah sosiolinguistik dalam penyampaian pidato kenegaraan yang disampaikan oleh Bapak Susilo Bamabang Yudoyono.

E.      Manfaat penelitian

1.       Akademis
a.       Untuk dapat menerapkan ilmu bahasa yang baik dalam penelitian mengenai analisis pidato kenegaraan yang disampaikan oleh Presiden.
b.      Mendapatkan pengalaman penelitian sesuai dengan disiplin ilmu bahasa yang selama ini ditempuh saat perkuliahan

2.       Praktik
a.       Memberikan gambaran umum kepada masyarakat dan mahasiswa tentang pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
b.      Sebagai evaluasi terhadap masyarakat dan mahasiswa dalam menerapkan isi dari pidato kenegaraan yang disampaikan .


F.        Metodologi Penelitian
           Penelitian ini berjudul “penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan” termasuk jenis penelitian deskripsi. Instrumen dalam penelitian ini adalah meneliti sendiri yang dibekali seperangkat pengetahuan tentang sosiolinguistik bahasa sebagai alat atau instrumennya. Data dan sumber data dalam penelitian ini adalah berupa kalimat tuturan atau ujaran bahasa inggris yang terkandung dalam penyampaian pidato kenegaraan.    
1.              Pendekatan penelitian
Penelitian ini tidak menekankan generalisasi tetapi yang lebih ditekan ialah tentang masalah sosiolinguistik dalam penyampaian pidado kenegaraan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Berikut adalah karateristik penelitian kualitatif.
a.          Dilakukan pada kondisi yang alamiah,langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrument kunci.
b.         Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif, data yang terkumpul berbenteuk kata-kata, sehingga tidak menekankan pada angka dan grafik.
c.          Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses.
d.         Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif
e.         Penelitian kulitatif lebih menekankan pada makna.

G.     Teknik pengumpulan data
                Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak. Teknik yang dipilih adalah teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan,  sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik ganti atau teknik distribusi.Metode penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode penyajian yang bersifat informal.

H.     Narasumber 
                Sumber informasi sekaligus narasumber dalam penelitian ini adalah jejaring sosial you-Tube, sedangkan objek penelitian ini adalah video pidato kenegaraan yang disampaikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyonodan diunggah ke jejaring sosial you-Tube.
                Penulis memilih you-Tube sebagai narasumber, dengan harapan dapat memperoleh data atau video yang lengkap sesuai dengan kebutuhan penulis dalam menyusun proposal ini.  












I.        Hasil dan Pembahasan
Pada bagian ini akan dideskripsikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan. Hal yang dideskripsikan tersebut adalah (1) penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam membacakan teks pidato (2) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan.

a.       Bahasa Indonesia yang baik dan benar
       1. Bahasa Indonesia yang Baik
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu terikat pada patokan. Dalam situasi formal seperti kuliah, seminar, dan pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal yang selalu memperhatikan norma bahasa.
      2. Bahasa Indonesia yang Benar
Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika kaidah ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata ditaati secara konsisten, pemakaian bahasa dikatakan benar. Sebaliknya jika kaidah-kaidah bahasa kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar atau tidak baku.
Hymes (1974) dalam Chaer (1994:63) mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :
 1.  Setting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan. Contohnya, percakapan yang terjadi di kantin sekolah pada waktu istirahat tentu berbeda dengan yang terjadi di kelas ketika pelajaran berlangsung.
2.    Participants, yaitu orang- orang yang terlibat dalam percakapan. Contohnya, antara karyawan dengan pimpinan. Percakapan antara karyawan dan pimpinan ini tentu berbeda kalau partisipannya bukan karyawan dan pimpinan, melainkan antara karyawan dengan karyawan.
3.    Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan. Misalnya, seorang guru bertujuan menerangkan pelajaran bahasa Indonesia secara menarik, tetapi hasilnya sebaliknya, murid-murid bosan karena mereka tidak berminat dengan pelajaran bahasa.
4.   Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan. Misalnya dalam kalimat:
               a. Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan. Misalnya                           dalam kalimat:
               b. Sinta berkata dalam hati, semoga dia diterima di perguruan tinggi negeri.
                    Perkataan “Semoga aku diterima di perguruan tinggi negeri” pada kalimat (a) adalah                        bentuk percakapan, sedangkan kalimat (b) adalah contoh isi percakapan.
5.  Key, yaitu menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.
6.  Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan.
7.  Norm, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.
8.  Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.
   3. Diperlukan Adanya Undang-Undang Kebahasaan
Masih teringat pada benak kita beberapa tahun lalu pemerintah mencanangkan undang-undang tentang penggunaan bahasa Indonesia yang mengharamkan penggunaan bahasa asing di ruang umum. Hal tersebut menggambarkan kerja pemerintah yang dinilai masih setengah-setengah terhadap bahasa bangsa sendiri.
Dengan adanya undang-undang penggunaan bahasa diarapkan masyarakat Indonesia mampu menaati kaidahnya agar tidak mencintai bahasa negara lain di negeri sendiri. Sebagai contoh nyata, banyak orang asing yang belajar bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa informal dan gaul.

    4.  Peran Variasi Bahasa dan Penggunaannya
Variasi bahasa terjadi akibat adanya keberagaman penutur dalam wilayah yang sangat luas. Penggunaan variasi bahasa harus disesuaikan dengan tempatnya (diglosia), yaitu antara bahasa resmi atau bahasa tidak resmi.
    1. Variasi bahasa tinggi (resmi) digunakan dalam situasi resmi seperti, pidato kenegaraan, bahasa pengantar pendidikan, khotbah, suat menyurat resmi, dan buku pelajaran. Variasi bahasa tinggi harus dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah.
    2. Variasi bahasa rendah digunakan dalam situasi yang tidak formal, seperti di rumah, di warung, di jalan, dalam surat-surat pribadi dan catatan untuk dirinya sendiri. Variasi bahasa ini dipelajari secara langsung dalam masyarakat umum, dan tidak pernah dalam pendidikan formal.

    5. Menjunjung Tinggi Bahasa Indonesia di Negeri Sendiri
Sebenarnya apabila kita mendalami bahasa menurut fungsinya yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama dan utama di negara Republik Indonesia.
Bahasa daerah yang berada dalam wilayah republik bertugas sebagai penunjang bahasa nasional, sumber bahan pengembangan bahasa nasional, dan bahasa pengantar pembantu pada tingkat permulaan di sekolah dasar di daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain. Jadi, bahasa-bahasa daerah ini secara sosial politik merupakan bahasa kedua.
B.   faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan bahasa inggris dalam pidato kenegaraan.
a.  Banyaknya istilah-istilah inggris yang belum di artikan kedalalam bahasa Indonesia
b. Adanya para duta besar dari berbagai Negara yang mendengarkan pidato tersebut.
c. banyaknya istilah yang harus disampaikan dalam bahasa inggris







D.  Simpulan dan Saran
1.    Simpulan
·         A. Simpulan
                Gejala bahasa yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia dianggap asebagai penyimpangan terhadap bahasa. Kurangnya kesadaran untuk mencintai bahasa di negeri sendiri berdampak pada tergilasnya atau lunturnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya dalam masyarakat.
                Salah satu kebijakan untuk tetap melestarikan bahasa nasional adalah pemerintah bersama segenap lapisan masyarakat menjunjung tinggi bahasa Indonesia agar tetap menjadi bahasayang dapat dibanggakan dan sejajar dengan bahasa-bahasa di seluruh dunia.

B. Saran
                Bahasa Indonesia sekarang ini sudah tercampur dengan bahasa-bahasa asing. Berbagai alasan menghampiri kenapa warga Indonesia lebih suka menggunakan bahasa asing dari pada bahasa Indonesia, salah satu alasannya karena menurut mereka menggunakan bahasa asing lebih memiliki nilai. Bahkan kita mencari pekerjaanpun banyak yang mensyaratkan harus menguasai bahasa asing terutama bahasa inggris.
                Kita sebagai warga Indonesia khususnya sebagai mahasiswa sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kitapun harus memupuk diri kita serta generasi muda lainnya agar bangga terhadap bahasa Indonesia sehingga bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
 
DAFTAR PUSTAKA

http://You-Tube/pidato presiden sby dalam bidang ekonomi
 Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowipjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono (eds). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
 Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai.2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
 Sabariyanto, Dirgo. 2001. Kebakuan dan Ketidakbakuan dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar